25 Januari 2009

Profil Tanjung Jabung Barat

Kabupaten Tanjung Jabung Barat adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jambi. Secara geografis, kabupaten ini terletak pada 00 530 - 010 41' lintang selatan dan 1030 23' - 1040 21 bujur timur, dengan luas wilayah 5.503 Km2. Kabupaten Tanjung Jabung Barat berbatasan dengan Provinsi Riau di sebelah utara, Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi di sebelah selatan, Kabupaten Batanghari dan Kabupaten Muara Jambi di sebelah barat, dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur di sebelah timur. Secara administratif, kabupaten ini terbagi
menjadi 5 kecamatan dengan Kuala Tungkal sebagai ibukota kabupaten. Letak kabupaten ini dapat dikatakan sebagai pintu gerbang Provinsi Jambi mengingat letaknya di Kawasan Pantai Timur. Oleh karena itu, tak salah jika wilayah ini juga berstatus sebagai kota transit. Kuala Tungkal sendiri, sebagai ibukota kabupaten di kenal sebagai surga belanja, demikian anggapan masyarakat Jambi. Kota pelabuhan yang terletak di Kecamatan Tungkal Ilir ini, juga dikenal sebagai kota perdagangan.
Kabupaten Tanjung Jabung Barat juga memiliki potensi pertambangan. Bahan galian yang terdapat di kabupaten ini antara lain batu bara, granit dan kaolin.
Dengan potensi sumber daya alam migas seperti yang ditemukan di Kecamatan Betara yang berpotensi produksi hingga 10 ribu barrel perhari, ditambah dengan hasil perkebunan primadona berupa kelapa sawit dan perikanan laut, ekonomi Tanjung Jabung Barat cukup menjanjikan. Perputaran ekonomi Tanjung Jabung Barat tetap berjalan baik dengan dorongan utama dari sektor industri, khususnya agroindustri. Wilayah ini memiliki beberapa industri besar, baik industri hulu maupun industri yang menjadi mata rantainya. Industri besar misalnya industri pulp, pengolahan kayu, minyak kelapa dan pengolahan perikanan laut.Kegiatan industri ini banyak dijalankan di Kecamatan Merlung dan Tungkal Ulu.
Kuala Tungkal, pusat pemerintahan kabupaten, sudah lama dilanda "demam" sarang burung walet. Komoditas yang satu ini dapat dijumpai di sebagian besar wilayah kabupaten. Usaha sarang burung walet ini menurut penduduk setempat sudah dimulai sekitar sepuluh tahun lalu dan hingga kini tetap diminati. Rumah bertingkat tiga dibangun dengan menyisakan tingkat paling atas untuk burung walet, agar sang burung mau membuat sarangnya di sana.
sumber :regionalinvestment.com


5 komentar:

  1. waahhh jadi pengen lihat daerah sana, bisa nggak ya???

    BalasHapus
  2. Potensi Pertambakan Udang Windu...kok nggak ada. Apa memang belum dikembangkan ya. Setahu saya pantai timur Sumatera dari Lampung sampai Aceh cocok untuk budidaya tambak udang windu.

    BalasHapus
  3. Untuk udang sebenarnya sudah du kembangkan tapi selalu gagal hampir tiap tahun air pasang naik menyapu abis tambak,

    BalasHapus
  4. tapi sayang daerah wisatanya kurang menarik,seandainya saja tempat2 wisatanuya sangat menarik pasti banyak yang datang tu .

    BalasHapus